Lompat ke konten
Home » [Curcol] Air Sakti

[Curcol] Air Sakti

Gambarnya Om Google
Gambarnya Om Google

Di sebuah siang yang panas, gerah dan ramai lalu lalang. Ada guru-guru. Ada anak-anak. Ada yang tertawa-tawa. Ada yang kipas-kipas kepanasan. Ada yang melamun. Ada yang berpeluk mesra, cium pipi kanan kiri, mungkin teman lama yang lama tak bersua. Di bawah pohon beringin depan ruang kepala sekolah, duduk dengan gelisah seorang guru muda dan beberapa muridnya.

“Tenang saja bu, aku pasti juara deeeehh, meskipun juara harapan hehehe” begitu kata murid lelakinya, yang mungkin dalam hatinya jujur berkata, juara harapan palsu.

“Gimana mau juara, nyanyinya aja kamu salah”  sang ibu guru menjawab gemas.
“Ya lupa bu… mau gimana lagi” sepertinya si murid cuek. Mau juara syukur enggak pun tak jadi soal.
Seharusnya tak perlu ada yang gelisah, toh si murid santai saja dengan hasilnya nanti. Berlatih sudah, berdoa sudah, dan intinya perlombaan pun dijalani sudah. Untuk apa bercemas-cemas.
“Kamu nggak nurut sih sama bu guru, coba tadi mau denger perintah bu guru” bu guru muda ini tampak masih kecewa.
“Yah… bu guru, kan airnya tumpah. Lagian bu guru nggak ngomong itu air apaan”
“Itu air sudah di kasih do’a. Kalau kamu minum pasti kamu menang eh malah ditumpahin”
— Dan aku, yang sengaja nguping, senyum-senyum saja dan bertanya-tanya.

Tag:

4 tanggapan pada “[Curcol] Air Sakti”

  1. Ckckck… jadi tradisi air minum yg dikasih jampi2 masih ada ya di tempat Mbak juga? Hhmmm…. warisan tradisi hindu yang masih kental di Indonesia. Dan sangat disayangkan mereka yang masih percaya pada tradisi itu adalah orang muslim juga. Sedih sekali. Ibu gurunya kalah canggih sama siswanya yang sudah ikhiyar, berdo’a dan bertawakal… Hehehee maap ya :)))

  2. Aku pernah baca tentang keajaiban air bu, bahwa air bisa menangkap kata yang baik ataupun yang buruk. Kayaknya banyak juga tradisi dari jaman dulu ketika ada doa bersama banyak diletakan air putih didepan para kyai. Buat aku si sah-sah saja. Yang menjadi kurang/tidak tepat adalah jika orang tersebut lebih meyakini tentang “keberhasilan/kegagalan” yang diraih berkat airnya itu.
    Kalau soal anak-anak. Aku suka gaya si murid lelaki itu, tertawa-tawa saja, khas anak-anak. Tak perlu gelisah, tak perlu cemas, tak perlu stress. 😆

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *