Perempatan Jalan Dalam 42 Detik

Anak jalanan kisaran usia sepuluh tahunan
laki-laki
tanpa alas kaki
duduk di trotoar
pakaian dekil kumal bau
seorang ibu berpakaian lusuh
menggendong bayi
bermuka muram
si ibu mendekati anak laki-laki
memaki-maki
si anak lelaki terisak-isak
kemudian beranjak
menghampiri pengendara dengan tangan menengadah
meminta-minta
terekam dalam Down Counter warna merah 42 detik
Kaliurang
19 Februari 2012
Lina Sophy

Mungkin Anda juga menyukai

6 Respon

  1. arichandRa hinta berkata:

    Assalamualaikum..
    hmm sering kita jumpai dijalan, terimakasih sudah mengingatkan..
    indera melihat, hati bicara, mana eksekuimu (saya) tentang mereka 🙂
    hakikat buat saya, efek buat diri yang lain..
    salam kenal 🙂

    • lina sophy berkata:

      Wa’alaikumsalam,
      salam kenal kembali mas candra…
      tentang mereka saya sendiri serba salah, mereka tetap eksis kan karena adanya pihak2 yang selalu memberi, sekarang sy lagi belajar untuk selalu bilang tidak pada pengemis dijalanan, mestinya pemerintah tegas. Yang bikin saya miris sekali adalah sewa menyewa bayi untuk mengemis, anak-anak tidak dapat haknya untuk bermain dan perolehan pendidikan yang layak karena disuruh mengemis… mestinya tindakan begini yang harus dihukum berat karena mereka mencetak mental ngemis. Huaaahhh saya rindu negara aman, tentram dan makmur… ❓ 😀 :mrgreen:

      • arichandRa hinTa berkata:

        InsyaAllah neng, semoga kerinduannya menjadi ekspektasi bagi nilai kehidupan dan kelangsungan bangsa ini, saya yakin dan optimis tiap diri dan bangsa ini bisa jadi suar bagi peradaban dunia, karena kita dan bangsa ini memiliki ini, ini dan ini..
        dalam konteks ini, ya indikasinya bisa berupa pendidikan, pemerintah yang diberikan amanah, etc..tapi yang menjadi critical point saya, ialah pendidikan, dimana pendidikan akan ilmu pengetahuan, yang tadinya benar bisa jadi salah, yang salah bisa jadi benar, yang benarpun sifatnya baru berupa hipotesa..
        mungkin karena, sering kita lupa atau tak sadar, tak ada pengawal dari ilmu pengetahuan kita, sebut saja itu adab, ilmu dan adab ibarat dua sisi mata uang..

  2. dhebu berkata:

    dimanapun selalu ada cerita 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *