Cilacap Heritage Fellowship Program Sebagai Upaya Pelestarian Cagar Budaya Indonesia

Untuk menghancurkan suatu Bangsa, maka hancurkanlah ingatan (sejarah) generasi mudanya.

Sebuah ungkapan yang patut dan harus kita renungkan. Jika generasi muda kita tidak kenal sejarah bangsa, maka tunggulah saat kehancuran bangsa itu. Ngeri banget ya? Kalian percaya ungkapan itu atau tidak? Kalau saya sih percaya, banget! Dan auto ingat juga pada ungkapan Ir. Soekarno tentang Jasmerah, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah! So, mari kita pelajari sejarah dan budaya, nggak usah jauh-jauh, mulailah dari lingkungan sekitar, kota tempat kita tinggal, cintai dan lestarikan cagar budayanya.

Apakah itu Cagar Budaya?

Kalian tahu apakah itu Cagar Budaya dan bagaimana menetapkan sesuatu itu menjadi Cagar budaya?

Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu di lestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

UURI No. 11 Tahun 2010

Dan gimana sih cara menetapkan sesuatu menjadi cagar budaya?

Penetapan Cagar Budaya adalah pemberian status Cagar Budaya terhadap benda, bangunan, struktur, lokasi, atau satuan ruang geografis yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten/kota berdasarkan rekomendasi Tim Ahli Cagar Budaya.

UURI No. 11 Tahun 2010

Jadi ternyata nggak gampang ya untuk menetapkan sesuatu masuk daftar Cagar Budaya. Harus ada tim ahli yang melakukan pendataan dan riset terlebih dahulu, menentukan layak atau tidaknya, sesuai aturan atau tidak, dan kemudian direkomendasikan sama pemerintah yang berwenang. Ribet ya? Tenang, ini bukan tugas kita kok. Hehe. Tapi paling tidak kita paham setidaknya harus ada nilai-nilai seperti historinya, kebudayaannya, ilmu pengetahuannya, dan/atau ada nilai agama, yang tentu juga ada kriteria khusus lainnya.

Sebegitu pentingnya Cagar Budaya, jika kalian di suruh memilih rawat atau musnah, kalian bakal pilih mana? Kalau saya, jelas rawat!

Kalau boleh tahu, di daerah kalian adakah sesuatu yang sudah ditetapkan menjadi Cagar Budaya? Kalau di tempat saya, Cilacap tepatnya, ada beberapa bangunan dan situs yang sudah masuk Cagar Budaya. Dan jujur, saya belum lama juga mengetahuinya. Meski terlambat nggak masalah dong ya? Ini juga berkat adanya program Cilacap Heritage yang belum lama ini di gelar.

Bangunan Cagar Budaya Di Cilacap

Setidaknya menurut situs pemerintah Daerah Cilacap pada tahun 2016 ada 6 Cagar Budaya yang teregristasi secara nasional. Bangunan dan benda tersebut antara lain Kantor Disporapar, Makam Belanda atau Kerkhof, makam Hong Bangkong Suralaka, lonceng kuno, gerbang kantor bupati, dan tempat tidur Bupati I. Sampai tahun 2018 sudah bertambah lagi. Termasuk bangunan Stasiun Kereta Cilacap, dan Benteng Klikers dan Karangbong.

Banyak masyarakat yang sama sekali belum mengetahui tentang benda-benda Cagar Budaya di Cilacap. Jujur termasuk saya, sebelum mengikuti kegiatan Cilacap Heritage Fellowship Progran ini pun saya tidak mengetahui Cagar Budaya apa saja yang ada di Cilacap.

Benteng Karangbolong Nusakambangan
Dok. Idris

Cilacap Heritage Fellowship Program

Dok. Cilacap Heritage Fellowship Program 2019

Cilacap Heritage Fellowship Program (CHFP) ini merupakan kegiatan yang di lahir atas kegelisahan yang dirasakan Mas Insan Indah Pribadi, founder Komunitas Film Sangkan Paran. Mas Insan, merasa khawatir dan sedih melihat minimnya literasi tentang sejarah kota Cilacap. Ketika melihat anak-anak sekolah kebingungan ketika mendapat tugas mencari pengetahuan tentang sejarah, tidak banyak buku pengetahuan atau sumber informasi lain yang didapatkan. Dan Alhamdulillah, acara ini pun di support oleh Direktorat Sejarah Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia serta Pemerintah daerah dan beberapa pihak sponsor lain.

Kegiatan CHFP ini diawali dengan seleksi peserta yaitu 20 kreator dari berbagai latar belakang minat dan bakat. Ada yang dari penulis, film maker, dan perupa yang diharapkan akan melahirkan suatu karya yang bermanfaat dan memperkaya literasi tentang sejarah Cilacap. Harus diakui, Ide ini teramat sangat keren. Iya kan? Salut banget buat mas Insan.

Kapan Cilacap Heritage Fellowship Program 2019 di gelar?

Dok. CHFP 2019

Pada bulan Agustus 2019 kemarin kegiatan ini dimulai. Kami semua dikumpulkan dan diberi pelatihan selama tiga hari. Diberi materi dan gambaran oleh nara sumber mengenai sejarah Cilacap dan diajak berkunjung ke salah satu situs Cagar Budaya.

Saat itu kami juga mengunjungi situs makam Belanda (Kerkhof) dan Rumah Adat Pasemuan milik masyarakat adat penganut aliran kepercayaan kejawen. Menggali informasi sebanyak-banyak guna bekal kami melahirkan karya.

Kerkhof , situs makam Belanda Cilacap
Rumah Adat Pasemuan
Masyarakat Adat Aliran Kepercayaan Kejawen

Kemudian kami diberi waktu kurang lebih selama 2 bulan untuk menghasilkan karya sesuai bakat dan kemampuan masing-masing. Karena keterbatasan waktu dan kesulitan menggali informasi, karya yang dihasilkan mungkin belum lah maksimal. Tapi seiring waktu kita bisa sambil menyempurnakan.

Hasil dari kegiatan Cilacap Heritage Fellowship Program 2019

Melihat dari tujuannya, output kegiatan ini dibuat untuk melahirkan karya-karya berlatar belakang sejarah. Maka setelah acara pembekalan materi, kami mulai bekerja untuk merealisasikan apa yang sekiranya bisa kita persembahkan.

Dari kerja keras kami, baik yang mandiri maupun kolaborasi sesama peserta, alhamdulillah bisa terkumpul beberapa karya yang semua berlatar belakang sejarah kota Cilacap. Karya tersebut antara lain:

  • Buku karya tulis
  • Buku cerita bergambar
  • Komik
  • Lukisan
  • Video pendek
  • Video pembelajaran
  • Musikalisasi puisi
Pameran Karya dan Penutupan CHFP
Dok. CHFP 2019

Karya dari Cilacap Heritage Fellowship Program 2019 ini di pamerkan dalam acara penutupan awal November kemarin di Dakota Cinema Cilacap. Alhamdulillah semua lancar dan masyarakat antusias untuk turut menyaksikan acara ini. Dan Pemerintah Daerah yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan Cilacap sangat mengapresiasi hasil dari kegiatan ini.

Dok. CHFP 2019

Dan saya, tentu sangat bahagia bisa menjadi salah satu peserta dalam acara CHFP ini. Meski masih sederhana dan banyak kekurangan bisa melahirkan sebuah buku cerita bergambar untuk anak yang berjudul “Nyamuk Penakluk Benteng”.

Bersama Pak Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Cilacap

Baca juga Menggali Sejarah Cilacap dari CHFP 2019

Manfaat Kegiatan Cilacap Heritage Fellowship Program

Well, yang pasti manfaat dari kegiatan ini sangat banyak dan positif.

– Mengenalkan Sejarah dan Upaya Melestarikan Cagar Budaya

Dari program CHFP ini banyak informasi yang tergali. Salah satunya mengenai Cagar Budaya di Cilacap. Beberapa bangunan yang telah resmi ditetapkan sebagai Cagar Budaya antara lain Kerkhoff, Benteng Klinkers dan Karangbolong, Stasiun Cilacap dan lain-lain.

Setelah kita mengerti bahwa banyak Bangunan yang sudah ditetapkan sebagai Cagar Budaya, diharapkan kita bisa menjaganya sebagai warisan budaya kita. Iya nggak?

– Memperkaya literasi sejarah

Hasil karya berupa buku-buku, lukisan dan film berlatar belakang sejarah dan budaya bisa dijadikan sumber belajar bagi masyarakat. Menambah pengetahuan tentang sejarah Cilacap.

Dari kegiatan Cilacap Heritage Fellowship Program yang saya ikuti ini, saya yakin bahwa acara ini bukan hanya upaya melainkan keturutsertaan kami anak muda Cilacap untuk menggali, mengenalkan, melestarikan sejarah dan termasuk didalamnya menjaga Cagar Budaya. Semoga di kota-kota lain banyak kegiatan serupa. Mau banyak tahu informasi Cagar Budaya Indonesia, kunjungi websitenya.

Peran Kita Untuk Melestarikan Sejarah dan Cagar Budaya

1. Untuk para kreator, Yuk lahirkan karya.

Buku atau video tentang sejarah rasanya masih sangat minim ya? Jika banyak karya, ini kan bisa jadi warisan pengetahuan untuk generasi mendatang. Entah penulis, blogger, vlogger yuk banyakin bikin konten positif dan mendidik tentang sejarah.

2. Kunjungi Wisata Heritage

Mengunjungi tempat sejarah atau cagar budaya yang sekarang lebih di kenal sebagai wisata heritage ini merupakan salah satu upaya kita mengenal sejarah. Selain itu juga nambah ilmu pengetahuan juga. Seru dong, ya wisata ya nambah ilmu.

3. Sebarkan informasi dan ajak masyarakat lain mencintai sejarah dan cagar budaya

Dari pada ngeshare berita hoaks mending share tentang sejarah dong? Sebarkan konten tentang sejarah dan Cagar Budaya terutama pada generasi muda. Semakin sejarah masuk dalam kehidupan sehari-hari kita, semakin kuat bangsa kita.

4. Jauhkan diri kita dari vandalisme

Nah yang ini saya berpesan banget, jangan jadi orang yang demen merusak dong. Miris sekali saat kita mengunjungi Cagar Budaya, tapi banyak tangan jahil merusaknya.

Tulisan ini di ikut sertakan dalam kompetisi blog yang di adakan oleh Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis di dukung oleh Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan.

Teman-teman, yuks ikut berpartisipasi. Semakin banyak konten positif tentang Cagar Budaya, Rawat atau musnah maka semakin banyak orang pula teredukasi.

Cilacap, 19 November 2019

Mungkin Anda juga menyukai

46 Respon

  1. Eka Fikry berkata:

    Wah, itu gambar bentengnya Karangbolong Nusakambangan keren skali. Penuh sejarah dan cerita ya mbak. Lebih asik lagi bisa ikutan Cilacap Heritage Fellowship Program 2019. yuhuuu!

  2. nurulrahma berkata:

    Wuaduh, quote di awal paragraf hak jlebbb banget, mbaaa
    Millenials dan kita semua wajib banget concern akan cagar budaya.
    sama2 menjaga dan melestarikan.
    ini wujud kebanggaan kita semua sebagai warga yg baik, ya kan?

  3. Inna Riana berkata:

    wah keren ada komunitasnya… semoga semakin banyak yg peduli tentang pelestarian cagar budaya. terutama pada generasi muda agar peduli dengan warisan bersejarah bangsa kita

  4. Tanti Amelia berkata:

    AAAW! Ini mengagumkan, Cilacap Heritage Fellowship Program membuat anak muda kembali melirik sejarah, dan jasmerah atau jangan lupa sejarah adalah kalimat sakti pamungkas!

  5. Rani R Tyas berkata:

    Kira-kira di Kudus ada kegiatan serupa nggak ya? Sepertinya memang kalau menggandeng para konten kreator, pesan yang akan disampaikan ke masyarakat jadi lebih mudah ya

  6. Asik banget nih dapat bacaan seru tentang cagar budaya Indonesia, jadi semakin banyak tau tentang cagar budaya dari masing-masing daerah.

  7. Mutia Karamoy berkata:

    Cilacap Heritage Fellowship Program ini bisa jadi percontohan nih buat daerah yang ingin mengenalkan cagar budaya di kalangan generasi milenial, soalnya generasi zaman now ini memang mulai jauh dari yang namanya sejarah terutama kaitannya dengan cagar budaya, karena sejarah adalah media kita untuk belajar menghadapi ketidakpastian di masa depan karenanya cagar budaya harus dipertahankan keberadaannya.

  8. Saran untuk peran menjaga cagar budaya yang bagus mbak. Setuju aku. Aku tambahi sebagai orang tua kenalkan anak dengan mengenalkan, mengunjunginya, meneritakan sehingga kepedulian menjaga cagar budaya tertanam sejak dini

  9. Bahrudin berkata:

    Mantap banget mba lina artikel nya. Super panjang menurut saya. Terimakasih juga artikelnya. Saya juga org cilacap asli kecamatan wanareja. Yg sdh bergabung di blog cilacap.

  10. Mugniar berkata:

    Manfaat Kegiatan Cilacap Heritage Fellowship Program memang dibutuhkan ya. Ini juga menunjukkan perlunya anak-anak Kita mendapatkan pelajaran sejarah lokal di sekolah. Semoga postingan seperti ini bisa menjadi bahan pertimbangan agar tiap daerah mempelajari sejarah lokalnya

  11. Ugik Madyo berkata:

    Masyaa Allah keren nih acara Cilacap Heritage Fellowship Program. Semoga dengan adanya acara ini semakin membuat generasi muda mencintai dan menjaga jagar budaya dimana pun berada. Aku nelum pernah nin ke Cilacap. Semoga suatu saat visa berkeliling ke berbagai cagar budaya Cilacap.

  12. Rachmanita berkata:

    Bener banget ya pengetahuan tentang cagar budaya ini perlu.. Karena memang nggak gampang ya untuk menetapkan sesuatu masuk daftar Cagar Budaya

  13. Lina W. Sasmita berkata:

    Baru ngeh ternyata kerkhof ini dimana-mana ada ya. Ternyata itu makam Belanda. Saya ingat banget di Garut juga ada nama tempat yang disebut kerkhof.

  14. Niken berkata:

    Saya belum pernah sampai ke Cilacap untuk menjelahi peninggalan kolonial Mbak. Terima kasih sudah dituliskan di artikel ini, jadi saya punya gambaran harus mengunjungi bangunan cagar budaya yang sebelah mana yang berkaitan dengan peninggalan kolonial.

  15. artha berkata:

    keren deh ternyata mbak punya karya yaaa. penasaran kisah nyamuk penakluk benteng, apa bikin bentol2 gitu atau gimana ya. berarti generasi muda cilacap sudah tahu gimana agar bs jaga cagar budaya daerahnya ya

    • Lina Sophy berkata:

      Ehehehe masih sederhana mbak, bukan cuma bikin bentol. Tapi cilacap dulu dikenal sebagai kota untuk kuburan orang eropa. Teror nyamuk malaria sangat mengerikan, sampai-sampai benteng yg dibangun ditinggalkan bukan karena hancur perang melainkan ditinggalkan karena serdadu yg menjaga satu persatu mati karena nyamuk malaria

  16. Dedew berkata:

    Keren nih kegiatannya, di kabupaten Semarang ada kelompok pencinta candi jadi kegiatannya mengunjungi, mendokumentasikan cagar budaya yang terlantar…

  17. Khoirur Rohmah berkata:

    Kita perlu tahu lah dikit dikit stepsnya dalam mendaftarkan suatu tempat utk masuk cagar budaya ya mbak.
    Kalau di Jember ada juga mbak. Tapi ga tau terlalu banyak atau akunya yg belum eksplor semua hehheee

  18. Keren nih mbak, selamat yaa udah ikut dalam Cilacap Heritage Fellowship Program. Kegiatan ini juga keren loh bisa mengajak kum milenial mengenal sejarah dengan cara yang mengasikkan

  19. April Hamsa berkata:

    Ah iya tuh paling sedih kalau ada cagar budaya dicoretin. Kayak gak menghargai sejarah gtu 🙁
    Wah kalau dr pemerintah daerahnya di Cilacap jg ada kempen utk melestarikan cagar budaya gtu ya mbak.
    Saya belum pernah ke Cilacap, moga kelak bisa ke sana dan mengunjungi bbrp cagar budayanya 🙂

    • Lina Sophy berkata:

      Kalau pemda siy sebetulnya masih kurang banget perhatian sama sejarah mbak, CHFP difasilitasi kemendikbud kok ini ehehe. Kalau ke Cilacap harus ke nusakambangan mbak, ada benteng peninggalan kolonial yg banyak cerita sejarahnya

  20. Uniek Kaswarganti berkata:

    Bagus banget mba ada inisiatif untuk melakukan program fellowship di Cilacap ini. Amat membantu meningkatkan rasa cinta tanah air pada generasi muda yg sudah mulai minim pengetahuan tentang sejarah negeri mereka sendiri.

  21. diane berkata:

    wahh keren banget programnya… semoga ada lagi.. jadi bisa ikutan.. haha menarik banget sih cagar budaya ini ya..

  22. Dengan tulisan kita tentang cagar budaya juga bisa ikut mengajak masyarakat untuk mengenal cagar budaya sekaligus mengajak merawatnya ya…

  23. Wiwied Widya berkata:

    Sumpah ini kegiatan yang keren banget.Harus banget diduplikasi ama daerah2 lain, supaya makin banyak orang yang melek sejarah. Keren banget mbak.

  24. ivonie berkata:

    Seru ikutan acara begini ya mbak, nambah pengetahuan ttg cagar budaya kota tinggal. Di Malang juga sering diadakan dan menggandeng kaum muda.

  25. Ida Raihan berkata:

    Membuka wawasan masyarakat untuk semakin tahu cagar budaya alam di seluruh nusantara.

    Kegiatannya sungguh menarik Mbak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *